Friday, 10 November 2017

thumbnail

Sejarah Pitarah di Lembah Napu Taman Nasional Lore Lindu


Kata orang tua di Jawa, “Anak kecil aja mangan brutu, nanti getune tibo mburi” (anak kecil jangan makan brutu atau pantat ayam, nanti penyesalan ada di belakang). Entah kenapa kata-kata itu yang teringat saat saya melewatkan dua situs batu besar (megalitikum) yang terdapat di Lembah Napu, Taman Nasional Lore Lindu. Jika dilihat saat ini memang tidak ada yang istimewa dari situs tersebut. Tetapi jika ditelisik lebih jauh ke masa lalu maka akan terasa betapa berharganya peninggalan manusia zaman dahulu.
Indonesia dianugerahi lanskap yang luar biasa. Namun tidak banyak yang mengira bahwa ada masa ketika Sumatera, Kalimantan, dan Jawa masih bergabung menjadi satu daratan. Begitu pula dengan Papua dan Australia—juga satu daratan. Sementara itu Sulawesi kokoh berdiri menjadi pulau tersendiri. Kira-kira begitu para ahli geologi menceritakan bentuk muka bumi Indonesia pada masa lalu.
Lain lagi cerita dari para arkeolog yang meneliti asal muasal manusia, khususnya soal siapa nenek moyang orang Indonesia. Teori Out of Africa menceritakan bahwa pada 100 ribu tahun yang silam ada migrasi manusia dari Afrika menuju seluruh penjuru dunia. Dari bukti fosil yang ditemukan di beberapa tempat di Indonesia, manusia sampai di nusantara sekitar 39.000-40.000 tahun yang lalu. Sebelum manusia (Homo sapiens) datang di nusantara, sudah ada yang datang terlebih dahulu yakni Manusia Purba (Homo erectus) yang kini sudah tinggal fosil saja.

Lembah Napu yang serupa mangkuk raksasa/Dhave Dhanang
Menurut catatan sejarah, ada tiga periode kedatangan manusia ke nusantara. Periode pertama adalah kedatangan ras melanesia, kedua adalah kedatangan austronesia lewat Malaya, dan yang ketiga adalah tibanya austronesia lewat Taiwan. Yang menarik, perjalanan migrasi manusia dari Taiwan menuju Filipina, lalu masuk Sulawesi, berpencar ke Kalimantan, Jawa, dan Indonesia Timur ini dikenal sebagai teori Out of Taiwan.
Berbicara tentang Sulawesi, pulau ini adalah pulau pertama di nusantara yang disinggahi para pitarah [nenek moyang] yang berjalan dari Taiwan, menyebrang ke Filipina, sebelum berjalan ke Sulawesi. Di Sulawesi banyak ditemukan bukti-bukti sejarah kehidupan masa lalu, dan yang terkenal adalah di Goa Leang-Leang di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Bukti prasejarah inilah yang menguatkan dugaan asal-usul nenek moyang manusia nusantara.
Sideperti Pulau Paskah di selatan Samudara Pasifik yang memiliki peninggalan megalitik berusia sekitar 600 tahun yang termasyhur sampai ke penjuru dunia, Indonesia juga memiliki situs-situs megalitikum yang hingga saat ini masih mudah di temukan. Di NTT masih banyak dijumpai kubur batu berukuran raksasa. Sementara itu, di Sulawesi terdapat patung-patung berukuran besar yang mirip moai Pulau Paskah.
Lembah Napu
Peninggalan Zaman Megalitikum di Lembah Napu/Dhave Dhanang
Selain lembah-lembah lain di Pulau Sulawesi, Khususnya di Sulawesi Tengah dan Selatan, Lembah Napu di Taman Nasional Lore Lindu, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, juga punya situs megalitikum. Lembah Napu serupa mangkuk ukuran raksasa di ketinggian di atas 1.000 mdpl. Di sini ditemukan beberapa situs megalitukum berupa patung-patung menyerupai manusia. Ukuran patung di sini masih berkisar 1-1,5 meter, sedangkan di Lembah Bada ada yang berukuran hingga 4 meter. Konon, menurut ahli sejarah batu-batu ini dibuat pada 3.000-4.000 SM. Menurut Kompas.com, berdasarkan “…data Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sulawesi Tengah saat ini terdapat 432 objek situs megalit di Sulawesi Tengah. Tersebar di Lore Utara dan Lore Selatan, Poso sebanyak 404 situs dan di Kecamatan Kulawi, Kabupaten Donggala sebanyak 27 situs.”
Tidak terbayangkan pada 3.000-4.000 SM sudah ada peradaban di Sulawesi—berdasarkan bukti-bukti megalitikum. Nusantara memiliki sejarah yang panjang dan tidak kalah dengan sejarah dunia, namun sayang belum tergali sepenuhnya. Situs-situs megalitik yang berjumlah lebih dari seribu menjadi saksi bisu perjalanan panjang nenek moyang dari negeri antah berantah menuju seluruh pelosok nusantara. Suatu saat Indonesia akan berkata pada dunia: kami punya rekaman sejarah perjalanan panjang umat manusia!

thumbnail

7 Tempat Nongkrong Murah Meriah di Jogja


“Wah, nongkrong di Jogja itu murah banget,” begitu kata temanmu yang baru balik traveling dari Jogja. Tapi pas kamu sendiri yang ke Jogja, kamu mendapati kenyataan yang berlainan. Ternyata biaya nongkrong di Kota Budaya itu sama saja dengan kota-kota lain. Terus kamu buru-buru nulis status di Twitter: “Nongkrong murah meriah di Jogja cuma mitos.”
Eits! Jangan sumbu pendek gitu, dong. Sebelum menilai bahwa Jogja itu mahal, lihat dulu tempat kamu nongkrong. Kalau kamu mainnya ke warung kopi kekinian atau gerai waralaba internasional, harganya tentu sama saja di mana-mana. Kalau mau murah, cari yang lokal. Nih, TelusuRI kasih bocoran 7 tempat nongkrong murah meriah di Jogja.

1. Angkringan KR

7 tempat nongkrong murah meriah di jogja
Suasana di Angkringan KR/Fuji Adriza
Tempat nongkrong murah meriah di Jogja yang pertama adalah Angkringan KR. Lokasinya di emperan kantor Harian Kedaulatan Rakyat (KR) di Jl. Margo Utomo (yang dulunya bernama Jl. Pangeran Mangkubumi). Dulu cuma ada satu angkringan di sana, yaitu Angkringan Pak Jabrik. Sekarang Pak Jabrik sudah punya saingan. Menu yang disediakan adalah makanan-makanan khas Jogja, seperti nasi kucing dan sate-satean. Minumannya pun macam-macam, dari mulai es teh sampai es tape susu.
Dulunya, tiap rabu malam (rabu gaul) anak-anak Kaskus Regional Yogyakarta (RY) nongkrong di sini. Datang ke sana jam 7 malam, kamu bakal lihat anak-anak muda memakai kaos Kaskus duduk-duduk sambil ngobrol. Mereka bisa betah lama-lama ngobrol sambil main kartu, ditemani secangkir kopi dan sepiring sate-satean.
Biasanya gelombang terakhir anak nongkrong KR bakal pulang waktu koran KR yang baru saja dicetak mulai dijejerkan di emperan buat didistribusikan. Tapi sekarang—mungkin karena Angkringan KR sudah terlalu ramai—anak-anak RY sudah pindah tongkrongan. Tapi catat: jangan nongkrong di sini siang hari, soalnya angkringannya belum buka.

2. Kopi Joss

7 tempat nongkrong murah meriah di jogja
Di malam hari trotoar di selatan Stasiun Tugu berubah jadi lapak Kopi Joss/Fuji Adriza
Hal pertama yang mesti kamu ingat: kopi joss bukanlah kopi dicampur Extra Joss. Minuman ini adalah kopi yang dipanaskan dengan bara kayu yang masih merah. Air apapun, termasuk kopi, kalau ke dalamnya dicelupkan benda panas menyala pasti bakal berbunyi “joss,” termasuk kopi. Makanya dinamakan kopi joss.
Mula-mula, kopi joss cuma dijual di sebelah utara Stasiun Tugu. Kedainya nempel di pagar stasiun, tapi para pelanggan duduk-duduk di atas tikar di trotoar seberang. Sekarang, angkringan kopi joss menjamur di sepanjang Jalan Mangkubumi dan jadi andalan anak muda buat nongkrong murah meriah di Jogja. Selain kopi yang membara itu, angkringan kopi joss juga menyediakan minuman lain (es teh, es tape susu, es jeruk) dan aneka makanan serta snack.

3. Alun-Alun Lor

7 tempat nongkrong murah meriah di jogja
Sore hari yang ramai di Alun-Alun Utara Jogja/Fuji Adriza
Keraton Jogja punya dua alun-alun, yaitu Alun-Alun Lor (utara) dan Alun-Alun Kidul (selatan). Dulu Alun-Alun Utara Keraton Yogyakarta ini dipakai buat tempat parkir bis wisata. Lapangannya jadi gersang dan agak kotor. Tapi baru-baru ini Alun-Alun Lor direnovasi dan cuma dikhususkan buat pejalan kaki. Sekarang nongkrong di Alun-Alun Lor jauh lebih nyaman dibandingkan dulu.
Mulai sore sudah banyak penjual makanan yang buka lapak di sekitar Alun-Alun Utara. Kalau suka gorengan, kamu pasti bakal senang banget ke sini karena lapak gorengannya menyediakan banyak varian gorengan, seperti bakwan, pisang goreng, onde-onde, bolang-bali, cakwe, tahu, dan lain-lain. Agak malam sedikit kamu bisa mampir ke Bakmi Jawa Pak Pele yang legendaris di pojok timur Alun-Alun Utara.

4. Alun-Alun Kidul


Sore hari di Alun-Alun Kidul Jogja/Fuji Adriza
Dibanding Alun-Alun Lor, sebenarnya Alun-Alun Kidul jauh lebih pas buat nongkrong. Di sini lapaknya jauh lebih banyak dan makanan yang ditawarkan jauh lebih beragam, dari mulai tempura sampai bakso. Soal minuman, yang paling banyak dijual di Alun-Alun Kidul adalah wedang ronde.
Jangan lupa juga buat nyobain jalan dengan mata tertutup melewati beringin kembar. Tapi sekarang yang paling disukai pelancong di Alun-Alun Kidul adalah becak-becak hias dengan lampu warna-warni yang bisa disewa dan dikayuh beberapa keliling. Cuma, kalau mau main becak-becakan dengan tenang, sebaiknya jangan datang waktu akhir pekan atau libur panjang—macet!

5. Plengkung Gading

7 tempat nongkrong murah meriah di jogja
Sorot lampu bikin Plengkung Gading jadi warna-warni di malam hari/Fuji Adriza
Tempat nongkrong murah di Jogja selanjutnya adalah Plengkung Gading, yang cuma terpaut beberapa puluh meter dari Alun-Alun Kidul. Plengkung berarti gerbang untuk memasuki daerah benteng atau keraton. Gading nama jalannya. Jadi, Plengkung Gading adalah gerbang keraton yang terletak di Jalan Gading.
Siang hari nggak boleh parkir di Plengkung Gading. Tapi, malam hari pelataran gerbang keraton ini bakal penuh oleh motor-motor yang parkir, yang orang-orangnya—tentu saja—nongkrong di bagian atas Plengkung Gading. Dari atas, kamu bisa lihat pemandangan Alun-Alun Kidul.
Kalau mau ke Plengkung Gading, ada tiga hal yang perlu kamu catat: Pertama, karena nggak ada yang jualan, mending kamu beli makanan di Alun-Alun Kidul terus bawa ke sini. Kedua, jangan vandal sebab Plengkung Gading adalah bangunan bersejarah. Ketiga, mending jangan jalan ke sini sendiri, kamu pasti bete karena banyak juga yang ke Plengkung Gading buat pacaran.

6. Pinggiran Kali Code

7 tempat nongkrong murah meriah di jogja
Pemandangan dari pinggir Kali Code di siang hari/Fuji Adriza
Wilayah Jogja dilewati beberapa sungai. Salah satunya Kali Code. Di malam hari, beberapa tempat di tepi Kali Code bakal semarak karena jadi tempat nongkrong anak-anak muda Jogja. Salah satu tempat nongkrong yang ramai adalah pinggiran Kali Code di dekat Jembatan Gondolayu, Kota Baru.
Mulai sore, lapak-lapak penjual makanan dan minuman sudah mulai buka di trotoar pinggiran Kali Code. Sebenarnya, makanan dan minuman yang dijual nggak jauh beda sama yang di angkringan-angkringan kopi joss. Tapi, dibanding suasana sekitar kopi joss yang lumayan berisik karena dekat dengan Malioboro, tempat nongkrong murah di Jogja yang satu ini lebih tenang karena tidak terletak di jalan utama.

7. Jembatan Gondolayu


Di siang hari kalau cerah kamu bisa lihat Gunung Merapi dari Jembatana Gondolayu/Fuji Adriza
Jalan beberapa ratus meter ke arah timur dari Tugu Jogja, kamu bakal tiba di sebuah jembatan di Jl. Sudirman. Nah, itu namanya Jembatan Gondolayu. Jembatan itu adalah salah satu lokasi favorit para mahasiswa untuk nongkrong. Sebabnya jelas: kamu benar-benar bisa nongkrong tanpa harus mengeluarkan uang buat bayar minuman. ‘Kan, nongkrongnya di jembatan.
Tapi di sekitar Jembatan Gondolayu juga ada beberapa warung nongkrong yang cuma buka malam-malam. Ada juga angkringan, warung nasi padang, mie ayam, dan beberapa restoran. (Kalau nggak suka kotor, kamu bisa nongkrong di McD! Tapi ya buat apa jauh-jauh ke Jogja kalau ujung-ujungnya nongkrong di McD.) Sekitar satu-dua tahun yang lalu, ada angkringan kopi di sana. Sekarang sudah nggak ada.
Nah, banyak ‘kan tempat nongkrong murah meriah di Jogja?

Wednesday, 8 November 2017

thumbnail

8 Petualang Dunia yang Pernah Singgah di Indonesia




Jauh sebelum Kemenpar mempromosikan potensi pariwisata Indonesia, sebenarnya wilayah Indonesia dari dulu sudah bikin penasaran para petualang dunia. Bedanya, dulu yang menarik minat sebagian besar dari mereka buat ke sini bukan Bali, Lombok, atau Kepulauan Raja Ampat, melainkan Kepulauan Maluku yang di masa lalu dikenal sebagai Kepulauan Rempah.
Selain buat nyari sumber rempah, ada pula yang tertarik ke Indonesia untuk mendaki puncak-puncak tertinggi, atau karena penasaran sama suku-suku di Indonesia yang kehidupannya beda banget dari peradaban mereka. Penasaran siapa saja petualang dunia yang pernah singgah di Indonesia? Yuk, geser ke bawah!

1. Marco Polo dari Venezia (1254-1324)


Potret Marco Polo via history.com
Ini bukan Marcopolo merk rokok lho ya. Lahir tahun 1254—kemungkinan di Venezia—pada usia belasan tahun Marco Polo ikut ayah dan pamannya pergi ke Asia. (Marco Polo berasal dari keluarga pedagang. Ia lama ditinggal ayahnya yang berdagang jauh sampai ke Tiongkok.) Nggak main-main, petualangan Marco Polo berlangsung selama sekitar 24 tahun. Kalau ditotal, jarak yang ia tempuh hampir 24.000 km!
Nah, waktu perjalanan pulang dari Tiongkok ke Italia, Marco Polo sempat “tertahan” angin monsun selama lima bulan di Sumatera. Dalam travelognya, Marco Polo mencatat bahwa saat itu ada 8 kerajaan di Sumatera, yang masing-masing punya bahasa yang berbeda. Ialah salah satu orang pertama yang mencatat keberadaan Kerajaan Perlak (Peureulak) yang disebutnya “Ferlec.”
Ia juga menuliskan tentang suku kanibal di pedalaman Sumatera dan hewan-hewan aneh yang ditemuinya. Setelah angin monsun mereda, Marco Polo kemudian melanjutkan perjalanan ke Sri Lanka, India, lalu terus ke kampung halamannya di Italia. Catatan perjalanan Marco Polo—The Travels of Marco Polo—adalah salah satu tulisan yang menginspirasi petualang dunia lain, yakni Christopher Columbus, yang membawa orang Eropa ke Dunia Baru.

2. Ibnu Batutah dari Maroko (1304-1368 atau 1369)

petualang dunia yang pernah singgah di indonesia
Sketsa Ibnu Batutah via history.com/Leon Bennet
Petualang dunia ini lahir di Tangier, Maroko, dan hidup sezaman dengan Marco Polo. Ia adalah seorang muslim yang taat. Menurut cerita ia sudah hapal Al-Quran pada umur 12 tahun. Semula dia cuma mau ke Mekah. Dari Tangier, ia melintasi Gurun Sahara kemudian terus ke Timur Tengah. Tapi entah kenapa, ia terus saja bertualang. (Sampai-sampai ia akhirnya singgah empat kali di kota suci umat Islam itu.)
Jarak yang ditempuhnya mencapai 120.000 km. Kalau merujuk pada peta sekarang, ia melintasi 44 negara di Afrika, Timur Tengah, dan Asia. Bikin geleng-geleng kepala, kan? Saking legendarisnya Ibnu Batutah, namanya diabadikan sebagai nama kapal ferry Maroko-Spanyol (Ibn Battuta Ferry) dan nama kafe (Ibn Battuta Café, yang menjual menu hamburger “Ibn Battuta”).
Kapal yang ditumpangi Ibnu Batutah pernah diserang bajak laut di perairan Sumatera. Ia pun terdampar di Aceh yang baru sekitar setengah abad sebelumnya dimasuki Islam. Selama di Indonesia, Ibnu Batutah mencatat bahwa ia sempat singgah di “Muljawa” dan “Tawalisi.” Di mana Muljawa dan Tawalis yang dimaksud sang petualang dunia itu sampai sekarang belum diketahui.

3. Laksamana Cheng Ho dari Tiongkok (1371-1433)


Lukisan Laksamana Cheng Ho via muslimdaily.net
Petualang dunia yang satu ini berasal dari Tiongkok. Dibanding petualang-petualang dunia lain, barangkali Cheng Ho adalah yang namanya paling familiar bagi orang Indonesia. Jejak-jejak kehadirannya di Indonesia pun sampai sekarang masih dapat ditemui. Di Semarang, untuk menelusuri cerita Cheng Ho, kamu bisa main ke Kelenteng Sam Po Kong yang, konon, sejarahnya ada hubungannya dengan Laksamana Cheng Ho.
Cheng Ho lahir di daerah Yunnan, di masa-masa awal Dinasti Ming. Prestasi-prestasinya membuat Cheng Ho dijadikan sebagai kepala pelayaran, yang salah satu tugasnya adalah mengambil upeti dari kerajaan-kerajaan di Pasifik Timur dan Samudera Hindia.
Nggak main-main, selama tiga puluh tahun karirnya, ia melakukan tujuh pelayaran mengarungi samudera. Konon, tujuh kali pula Cheng Ho singgah di Kepulauan Indonesia. Ia pernah mampir di Samudera Pasai, Cirebon, Semarang, dan Majapahit.

4. Ferdinand Magellan dari Portugal (1480-1521)


Magellan sebelum pelayaran kedua via magellan2121.weebly.com
Traktat Tordesillas (4 Juni 1494) antara Spanyol dan Portugal membagi dunia baru menjadi dua. Belahan barat jadi milik spanyol, sementara yang sebelah timur punya Portugal. Sebelum jadi pemimpin pelayaran, Magellan pernah jadi anak buah Francisco de Almeida, Wakil Raja Portugis di India. Ia bersama Francisco Serrão—yang akhirnya jadi penasihat Sultan Bayan Sirrullah dari Ternate—juga ikut berpartisipasi dalam penaklukan Malaka. (Tapi kayaknya Magellan nggak pernah nongkrong di Hard Rock Cafe Jonker Street.)
Kemudian, disponsori Spanyol yang penasaran buat nyari rute ke Kepulauan Rempah di Asia lewat barat, tahun 1519 Ferdinand Magellan bersama 270 awak kapal mulai berlayar ke barat melintasi Samudera Atlantik. Setiba di pesisir Dunia Baru, armada Magellan lalu menyusuri pantai timur Amerika Selatan dan mereka jadi petualang pertama yang tiba di Tierra del Fuego, pulau paling selatan di Benua Amerika. Selat yang memisahkan Amerika dengan Tierra del Fuego kemudian dinamakan Selat Magellan.
Lewat Laut Sulawesi, Magellan dan awaknya (yang tinggal 150 orang) juga jadi orang Eropa pertama yang tiba di Filipina. Tapi malang, Magellan akhirnya harus meregang nyawa ditusuk bambu runcing waktu bertempur dengan pasukan Datu Lapu-Lapu dari Mactan. Setelah peristiwa berdarah itu, armada Magellan melanjutkan petualangan ke barat. Dari lima kapal dalam pelayaran itu, hanya satu yang bisa pulang dengan selamat, yakni Victoria—kapal pertama yang mengelilingi dunia. Tragisnya, dari 270 awak yang berangkat, hanya 18 yang bisa kembali menjejakkan kaki di Benua Eropa tahun 1522.

5. Sir Francis Drake dari Inggris (1540-1596)

petualang dunia yang pernah singgah di indonesia
Potret Sir Francis Drake via historic-uk.com
Francis Drake—dianugerahi gelar “Sir” oleh Ratu Elizabeth I tahun 1581—adalah salah seorang petualang hebat yang namanya jarang disebut di pelajaran sejarah Indonesia. Padahal ia adalah kapten pertama yang berhasil mengelilingi dunia. (Magellan gagal karena terbunuh di Filipina.) Barangkali karena nama Drake lebih dikenal sebagai seorang privateer alias “bajak laut” yang diberi hak oleh kerajaan Inggris buat perang dengan kerajaan saingan.
November 1577, petualang dunia ini berangkat dari Inggris membawa lima kapal, dengan flagship bernama Pelican. (Di tengah jalan nama “Pelican” diganti jadi “The Golden Hind.”) Dari sana, ia ke Cape Verde, terus ke Selat Magellan, kemudian menyusuri Benua Amerika dari selatan ke utara. Dari California ia melintasi Samudera Pasifik dan sempat singgah di Palau.
Di Maluku (akhir 1579) ia memuat kapalnya dengan rempah-rempah—kedatangannya disyukuri oleh Sultan Ternate yang saat itu sedang bermusuhan dengan Portugis. Lalu lewat Samudera Hindia, ia terus ke Tanjung Harapan dalam pelayaran tanpa henti selama 118 hari! Akhir September 1580 Sir Francis Drake dan 59 awak yang tersisa tiba kembali di Inggris.

6. Kapten James Cook dari Inggris (1728-1779)

petualang-petualang dunia yang pernah singgah di indonesia
Lukisan Kapten James Cook via history.com
James Cook adalah seorang kapten di Angkatan Laut Kerajaan Inggris yang pertama kali mencatat soal Australia dan Kepulauan Hawaii. Petualang dunia ini juga memimpin pelayaran pertama mengelilingi Selandia Baru
Meskipun hidup di masa-masa akhir Era Penjelajahan, nama Kapten James Cook bisa disejajarkan dengan petualang-petualang yang hidup satu-dua abad sebelumnya. Ia adalah kapten pertama yang memetakan—secara detail—pulau-pulau di Samudera Pasifik dari Selandia Baru sampai Kepulauan Hawaii.
Tahun 1770, Kapten Cook pernah singgah selama beberapa bulan di Batavia saat kota itu berada dalam kondisi yang buruk (dinilai sebagai salah satu kota paling tidak sehat di dunia). Di tahun yang sama ia juga pernah mampir di Pulau Timor dan bertemu petinggi Kompeni di sana.

7. Joseph Condrad dari Inggris (1857-1924)


Foto Joseph Conrad via thefamouspeople.com
Barangkali Joseph Conrad lebih dikenal sebagai penulis ketimbang petualang. Tapi, faktanya, tahun 1874, saat ia berumur 17, Conrad sudah bergabung dengan armada niaga Inggris. Ia berkeliaran di laut lumayan lama. Pada umur 36 tahun karena ingin serius menulis, ia memutuskan untuk berhenti mengarungi lautan.
Penulis Inggris-Polandia kelahiran Ukraina ini tercatat pernah ke India, Kongo, Singapura, dan Indonesia. Tempat-tempat di Indonesia yang pernah disinggahi Conrad adalah Berau di Kalimantan (empat kali) dan Muntok, kota pelabuhan di Bangka.
Pengalaman-pengalaman selama berlayar bersama armada niaga inilah yang jadi inspirasi dalam novel-novel karya Conrad. Heart of Darkness (1899)contohnya, adalah penggalan petualangannya selama di Kongo. Sebagian cerita Lord Jim (1900) dipengaruhi oleh petualangannya di Berau.

8. Heinrich Harrer dari Austria (1912-2006)

petualang-petualang dunia yang pernah singgah di Indonesia
Potrert Heinrich Harrer via welt.de
Sudah pernah nonton film Seven Years in Tibet (1997)? Iya, ini Heinrich Harrer yang sama dengan yang diperankan oleh Brad Pitt itu. Film itu sebenarnya diangkat dari bukunya Harrer sendiri, yang berjudul sama, yakni Seven Years in Tibet (1952).
Bukunya itu menceritakan pengalaman Harrer saat terjebak di Tibet antara 1944-1951, saat ia dan Tim Jerman sedang mencoba mendaki Nanga Parbat. Sayang sekali mereka gagal mencapai puncak. Lebih buruk lagi, mereka malah ditahan oleh pasukan Inggris yang saat itu sedang perang dengan Jerman. Meskipun dapat melarikan diri dari kamp Inggris, kecamuk Perang Dunia II dan gejolak politik di Tiongkok bikin Harrer tertahan di Tibet selama tujuh tahun! Selama di Tibet ia menjalin persahabatan dengan Dalai Lama yang ketika itu masih kecil.
Tapi barangkali sedikit yang tahu kalau Heinrich Harrer pernah ke Indonesia. Harrer adalah ketua pendakian pertama ke Puncak Carstensz Pyramid. Ia dan tiga petualang lain berhasil menginjakkan kaki di puncak tertinggi Oseania itu tahun 1962.
Banyak juga ya petualang dunia yang pernah ke Indonesia?
thumbnail

7 Hal yang Bikin Mendaki Gunung di Musim Kemarau Lebih Seru


Beberapa waktu yang lalu di ujung musim hujan, banyak beredar berita soal pendaki yang mendaki gunung dan tersambar petir. Nggak cuma satu kasus, ada beberapa kejadian yang memakan lebih dari dua korban. Bikin sedih, kan?
Sekarang musim hujan sudah berakhir dan digantikan kemarau. Dibanding musim hujan, jumlah pendaki akan semakin membludak di musim kemarau. Nah, 7 keuntungan naik gunung di musim kemarau ini mungkin jadi alasan kenapa gunung semakin ramai di musim kering:

1. Kecil kemungkinan untuk kehujanan saat mendaki gunung

Nggak ada yang lebih ngeselin daripada kehujanan di gunung. Oke, kamu sudah pakai jas hujan. Kamu juga sudah pakai sepatu anti-air. Ransel gunungmu juga sudah dilapisi cover. Tapi tetap saja langkah kamu akan terasa berat dan kamu harus mengeluarkan usaha ekstra agar tidak terpeleset di jalan setapak yang licin. Nah, kalau di musim kemarau kemungkinan untuk kehujanan saat mendaki gunung lebih kecil. Mungkin ada yang protes: “Lho, musim kemarau ‘kan jadi banyak debu?” ‘Kan ada slayer atau buff.

2. Memperkecil ancaman tersambar petir

Akhir-akhir ini banyak berita tentang para pendaki yang terkena petir di gunung. Tapi apa mau dikata: musim hujan memang musimnya petir. Ingat-ingat lagi pelajaran sekolah bahwa kilat dan petir itu terjadi karena loncatan ion-ion di awan. Musim hujan, langit penuh awan. Musim kemarau awannya lebih sedikit dan karena itu petir lebih jarang terjadi dibanding musim hujan. Tapi tetap waspada, guys!

Meniti Jembatan “Shirathal Mustaqim” Gunung Rakutak/Fuji Adriza

3. Kamu nggak akan “rafting” di gunung

Anak gunung pasti paham kalau sebagian besar jalur di gunung yang kamu lewati itu aslinya adalah jalur-jalur air. Mungkin akan terlalu berlebihan kalau menyebut jalur itu sebagai sungai intermittent atau episodik, tapi yang jelas di puncak musim hujan jalur itu akan kembali menjadi aliran air yang mengalir lumayan deras. Nggak enak banget naik-turun saat mendaki gunung lewat jalur-jalur “sungai” seperti itu. Kamu akan lebih cepat capek dan kakimu juga akan terus-terusan lembab. Kalau kamu naik gunung musim kemarau, kecil kemungkinannya kamu akan rafting di gunung. Rafting di sungai, coy!

4. Kamu bisa menghemat tembakau karena nggak ada pacet

Punya pengalaman buruk dengan pacet waktu mendaki gunung? Mungkin bukan pacetnya yang salah, kamu saja barangkali yang keliru memilih waktu untuk naik gunung. Musim hujan membuat kawasan gunung menjadi lembab sehingga pacet berkembang biak dengan baik. Di musim kemarau yang lebih kering, populasi pacet tidak akan sebanyak di musim hujan.

Ritual menjemur kaus kaki basah/Fuji Adriza

5. Nggak perlu membawa baju ganti terlalu banyak

Kamu sudah susah payah mengumpulkan duit untuk beli peralatan ultra-light. Tapi di musim hujan, semua gear ultra-light kamu itu seperti tidak ada artinya sebab kamu juga harus membawa baju ganti ekstra—kedinginan di gunung bisa bahaya. Ultra-light bisa berubah jadi ultra-heavy karena kamu harus membawa baju atau jaket atau kaos kaki yang basah terkena air hujan. Sabarlah sedikit. Tunggu sampai musim benar-benar kering sebelum memulai musim pendakian gunungmu tahun ini.

6. Nasib kamera atau ponselmu lebih terjamin

Kalau disurvey, barangkali hampir semua pendaki masa kini membawa gawai saat nanjak, entah kamera atau ponsel. Tapi belum banyak juga yang membawa gawai-gawai anti-air. Naik gunung di musim hujan membuatmu harus ekstra hati-hati saat membawa ponsel atau kameramu. Ponsel mungkin bisa kamu lindungi dengan memasukkannya ke dalam plastik kecil. Kamera lain lagi; perlu perlakuan ekstra. Membawa DSLR berarti membawa kontainter hampa udara yang makan tempat di ransel. Selain itu kamu juga akan ragu mengeluarkannya sewaktu-waktu karena cuaca yang tidak menentu. Repot, ‘kan? Nah, di musim kemarau kamu bisa lebih santai karena cuaca tidak seekstrem musim hujan.
mendaki gunung
Bulan Agustus di Alun-Alun Mandalawangi Pangrango via ceritapejalan.com

7. Kamu bisa lebih leluasa menikmati pemandangan

Capek-capek ke puncak ketemunya kabut? Mungkin kamu salah musim. Di musim kemarau, kabut yang kamu keluhkan itu akan tersibak, memamerkan lukisan alam yang tiada duanya—padang sabana luas, kawah-kawah belerang yang misterius, awan putih, dan langit biru tanpa batas. Malam hari saat keluar tenda, cahaya jutaan bintang akan menari-nari menghiburmu, saingan dengan kelap-kelip lampu yang dipancarkan oleh peradaban manusia di bawah sana. Bagaimana menurutmu?